Popular Post

Popular Posts

Recent post

Showing posts with label Galeri. Show all posts

Jurnalis Ambon,Galang Dana Untuk Anak Yatim Yang Jantungnya Bocor
Sejumlah jurnalis di Kota Ambon, Provinsi Maluku, menggalang dana untuk membantu Virdayanti Hatala, anak yatim piatu. Jantung remaja berusia 16 tahun yang bermukim di Desa Batu Merah, Kota Ambon ini, divonis bocor oleh dokter spesialis.
Firda, sapaan akrab Virdayanti Hatala itu divonis dokter mengalami gangguan pada jantungnya saat mengenyam pendidikan bangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di tahun 2015 lalu. Saat itu, kondisi jantungnya baru 0,01 persen.
Rasa sakit yang dialami Firda, sebenarnya telah dirasakan sejak lama. Tapi siswi yang kini duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 11 Ambon itu, baru mengetahuinya setelah kakinya bengkak-bengkak.
Kaki Firda mulai terlihat bengkak tak beraturan setelah dirinya usai mengikuti olahraga di sekolah.
Kala itu, Usman Hatala, ayah Firda, membawanya ke dokter tulang. Namun dokter mengaku tidak ada masalah, lalu dirujuk ke dokter paru. Tapi hal yang sama juga disampaikan, hingga dirujuk lagi ke dokter jantung. Dari situlah, penyakit Firda diketahui.
Ayah Firda adalah seorang Aparat Sipil Negara (ASN) pada Universitas Terbuka di Ambon. Ia harus berjuang keras setelah mengetahui Firda mengalami kelainan jantung. Tak jarang, ia terpaksa kredit di bank.
Semasa ayahnya hidup, Firda sudah tiga kali bolak-balik Jakarta untuk penyembuhan. Rencananya, akhir Desember 2018 lalu, Firda harus kembali lagi ke Jakarta, untuk menjalani kontrol dan pengobatan. Sayang, takdir berkata lain. Ayahnya itu, dipanggil Sang Pencipta.
Ayah Firda meninggal pada bulan November 2018, karena diduga diserang penyakit asam lambung. Kepergian ayahnya sempat membuat kondisi dirinya drop. Ia putus asa, ditinggal orang tercinta.
Waktu berlalu, Firda kembali bangkit untuk tetap tegar dan kuat bersama ibunya Rahiyah Lisaholet. Ia tak patah arang, agar sembuh dari penyakitnya itu.
Hanya empat bulan kepergian ayahnya, ujian besar kembali datang menghampiri Firda. Ibunya, kembali dipanggil Sang Khalik.
Ibu kandung remaja berparas cantik ini meninggal dunia pada Februari 2019. Ia meninggal karena diduga diserang penyakit gula darah.
Ditinggal pergi ayah dan ibu kandungnya, kondisi Firda semakin hari semakin memburuk. Rasa sakit semakin menggorogoti tubuh mungilnya itu mulai dirasakan pada bulan Mei 2019.
Oleh dokter di Jakarta, Firda disarankan beristirahat total untuk penyembuhan. Setelah Idul Fitri pada Juni 2019 lalu, ia diistirahatkan sementara dari aktivitasnya bersekolah.
Firda saat ini hidup bersama Echa Hatala, kakak perempuannya. Mereka hidup di sebuah rumah sederhana yang hanya memilik satu kamar tidur, dapur dan ruang keluarga berukuran kecil.
"Sejak bapak dan ibu meninggal, kesehatan Firda semakin memburuk," ungkap Echa, kaka sulung Firda kepada wartawan yang mengunjunginya, Jumat sore (28/6/2019).
Setelah ditinggal orang tua, Echa lebih giat lagi mencari nafkah. Selain menghidupi keluarga, hasil jualan es buah dan makanan ringan di depan rumahnya itu, juga untuk membiayai pengobatan adiknya tersebut.
"Keluarga kami juga membantu untuk pengobatan Firda, tapi kita kan tidak bisa terus-terus minta ke keluarga, karena mereka juga punya keluarga yang harus diperhatikan," terangnya.
Untuk menyembuhkan Firda, Echa harus mendatangi bekas kantor almarhum ayahnya untuk meminjam uang.
"Alhamdulillah, mereka bersedia pinjamkan uang sebesar Rp10 juta untuk kontrol penyakit Firda ke Jakarta. Rencanan Firda berangkat ke Jakarta hari Minggu besok, jelasnya.
Firda yang ditemui wartawan, juga mengaku ingin sembuh untuk melanjutkan sekolah. "Kata dokter beta (saya) seng (tidak) boleh lelah. Makanya saat ini beta tidak sekolah dulu. Beta ingin sembuh biar bisa masuk sekolah lagi," harapnya.
Bachtiar Heluth, seorang jurnalis TV Nasional mengaku, ide galang dana untuk membantu Firda lahir dari perbincangan melalui sebuah grup whatsapp. Diskusi lepas dari para awak media lokal, maupun nasional ini, kemudian menyepakati aksi sosial kemanusian tersebut.
"Ide ini juga lahir dari saran Bang Kasubbag Humas Polres Ambon (IPDA Julkisno Kaisupy). Aksi ini bukan saja khusus kepada wartawan tapi juga untuk umum," kata Heluth.
Heluth mengaku, semoga aksi penggalangan dana ini bisa sedikit membantu biaya penyembuhan dan mengurangi beban keluarga Firda.
"Alhamdulillah, sejak aksi ini dibuka sore tadi, sampai jam 9 malam ini, kita sudah mengumpulkan uang sebesar Rp 5.250.000. Kita memang bukan sedarah tapi kita basudara," tandasnya.

Pamflet


Add caption
Pada saat ini penulis akan membahas mengenai Generasi Aki, apa kah yang di maksud.?
Yah  di mana generasi yang masih membingungkan saat orang yang lebih tua lebih menginginkan sebuah jabatan yang seharusnya dapat di gunakan oleh generasi muda sebagai ajang pembelajaran. Bukan untuk melarang orang yang lebih tua terus belajar, melainkan memberi kesempatan pada yang muda untuk belajar.
Tulisan ini penulis ambil dari sebuah pengalaman saat pemilihan ketua organisasi Mahasiswa Kongres ke VII di mana anak – anak dari semester tua berkata kepemimpinan organisasi saat ini adalah waktunya regenerasi dimana akan di berikan kepada semester bawahnya, walau ada yang sangat di sayangkan mereka justru menjadi tim pendukung dari orang yang lebih tua dan memiliki banyak kesibukan. Apakah arti dari re-generasi adalah hanya perpindahan dari semester tua kesemester yang lebih mudah, kita semua mengetahui bahwa Mahasiswa bukan hanya anak – anak muda akan tetapi juga orang tua dari semester 1 – 8 bahkan lebih semuanya sama setiap kelas ada anak muda dan juga yang tua. Sayangnya bagi logika penulis halitu sangatlah salah karna buat apa adanya re-generasi kalau hanya untuk perpindahan tingkatan  tapi tetap di pimpin oleh orang yang jauh lebih sibuk di banding semester tua bahkan hal itu dapat meng hambat generasi muda untuk belajar dan cari pengalaman.
Akan tetapi hal seperti itu masih terjadi sehingga apakah benar jika orang yang lebih tua lebih ingin sebuah jabatan sedangkan dia adalah orang yang sudah berkeluarga, pembisnis, memimpin banyak usaha, bahkan jika dia belom berkeluarga dan bukan orang sukses apakah masih pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Oleh sebab itu penulis menulis ini semua.
Pertama untuk orang tua belom sukses, yang masih ingin jabatan di ranah organisasi mahasiswa. Fikirkanlah kembali  di waktu saat ini penulis yakin  masih ada semangat muda dalam diri orang tua seperti itu, sehingga masih ingin belajar berorganisasi akan tetapi apakah tidak jauh lebih baik belajar dengan menjadi angota di organisasi atau penasihat pembimbing yang tida berstruktur agar dapat tetap belajar tanpa menggangu proses belajar dari seorang Mahasiswa atau generasi muda, dan dengan mengajarkan generasi muda atau menjadi pembimbingnya re- generasi akan terus berjalan. Jika yang tua sudah mengajarkan untuk merenggut proses yang muda maka hal yang sama akan berulang di masa mendatang dan taada hentinnya justru pada ahirnya akan menjadi titik awal kehancuran baik organisasi mahasiswa kampus maupun negaranya, penyesalan yang dilakukan pada masalalu karna tidak dapat menjadi pemimpin organisasi di masa itu jangan di lampiaskan pada masa saat ini sehingga mengganggu proses dari  generasi muda saat ini dan dapat membuat hal yang sama terjadi di masa yang akan datang . Seharusnya dari pengalaman yang pernah di alami justru di jadikan ajaran  dan meberi motifasi yang muda agar mereka ingin terus berorganisasi agar tidak mengalami penyesalan  yang sama.
Kedua untuk orang tua yang sukses memiliki banyak usaha bahkn sudah berkeluarga yang masih ingin mengejar jabatan ketua organisasi mahasiswa, maka fikirkanlah kembali karna penulis yakin dengan sudah menjadi seorang pembisnis artinya sudah banyak pengalaman yang dimiliki sehingga layak untuk menjadi seorang pemimpin akan tetapi organisasi mahasiswa adalah wadah untuk belajar berorganisasi apakah orang yang sudah banyak pengalaman terus belajar sehinga menggangu tempat yang seharusnya bisa di gunakan oleh anak – anak muda belajar, bukan melarang orang tua yang sukses untuk belajar akan tetapi lebih memberi kesempatan yang muda untuk belajar hinga bisa mengajarkan generasi setelahnya lagi, di mana tali regenerasi tidak akan putus karna orang yang dewasa harusnya mau membimbing dan menasehati tapi bukan berarti harus menjadi seorang pemimpin.
Seperti yang kita semua ketahui bahwa orang tua adalah orang yang lebih dewasa dan lebih banyak memiliki ilmu wawasan dan juga pengalaman bukankah seharusnya membimbing dan berbagi pengetahuan yang dimiliki agar ada generasi yang jauh lebih baik dan semakin baik di kemudian harinya, apabil yang tua masih berfikir tentang egonya untuk berada di tahap belajar dengan mengambil tempat generasi muda maka akan di taro di mana semangat dari generasi mudannya, akan kah terhenti regenerasi  atau tidak ada di tangan diri kita masing – masing. Jika orang yang lebih tua sudah memberi kesempatan untuk yang muda belajar jangan sampai di tersia – sia.
Rubah masadepan bersama – sama karna jika kita bersama kita bisa.
Fahmi Reza D.H
                      Pimpinan Redaksi LPMSCR


Generasi Aki

Bisa Mulut Manusia
Kitab suci Al Quran adalah kitab suci bagi orang – orang Islam, di dalam Al Kitab banyak menjelaskan tentang menjaga lisan atau bicara, bahkan dalam pribahasa juga seringkali menyinggung seperti Lidah lebih tajam daripada pisau dan lain sebagainnya, semua itu mungkin kalian sering mendengarnya.
Akan tetapi penulis tetap menuliskan mengenai pembahasan ini dikarnakan, masih banyak yang mungkin lupa akan itu semua dengan dibuktikan pada era saat ini masih banyak yang sering berbohong, fitnah,ingkar,gosip dan lain sebagainya dimana penggunaan lisan tidak seperti seharusnya digunakan.
Dari pengalaman penulis yang menjadi sebuah riset untuk acuan dalam tulisan saat ini penulis sering mendengar perkataan tidak, tidaakan, itu buruk, jangan, bukan danlain sebagainya sebagai sebuah bantahan atau alasan untuk mereka tidak melakukannya  akan tetapi sering kali justru mereka melakukannya, dan sudah tidak mengherankan lagi  jika mereka memberi tambahan untuk dalih atau alasan atas tingkahlakunya. Mungkin memang masih banyak di antaranya yang merubah keputusan dikarnakan mereka baru menyadari  apa yang haarus mereka lakukan namun seringkali mereka tidak memberitahu kembali atas perubabahan yang mereka putuskan, dan lebih parahnya banyak juga yang memang dengan sengaja mengatakan prihal tersebut untuk membohongi orang lain tanpa mereka sadari bahwa sekecil apapun kebohongan itu akan di pertanggung jawabkan di kemudiyan hari baik di ahirat maupun di dunia seperti siksa kubur atau akan di bohongi oleh orang lain.

Hal – hal sepele yang sering jadi kebiasaan saat ini adalah lebih mengutamakan kepentingan dan kebutuhan dibandingkan kejujuran dan aturan yang ada, contoh misal dengan di awali berbohong seperti menaikan harga jual saat berdagang dengan sangat tinggi dalih yang selalu di ucapkan adalah ini harga pas atau harga sudah dari pabriknya yang sebetulnya tidak seperti yang di katakan benih itu di budidayakan dan di kembangkan dengan korupsi dana seperti dalam suatu proyek baik kemasyarakatan maupun proyek kemahasiswaan proposal yang di buat oleh panitia selalu saja menambah nominal RAB pada proposal pengajuannya dan di perparah dengan LPJ tidak sesuay atas apa yang di berikan walau ada dana sisa dari proyek selalu ditulis bahwa semua dana habis untuk proyek.
Bayak budaya buruk yang menjadi suatu tradisi yang hingga saat ini masih tidak disadari oleh banyak orang seperti dari lisan maupun dalam perbuatan, akan tetapi baik buruk manusia dapat di percaya itu melalui lisan jika lisan digunakan untuk sedikit kebohongan maka kehancuran kepercayaan dan lain sebagainya yang lebih besar akan menanti dirinya.

Lisan lebih tajam daripada pisau semua orang mengetahui tapi juga tetap disalah gunakan, sama seperti pisau dapat digunakan untuk membantu atau melukai bahkan merusak seperti itu juga lisan ucapan dapat membantu kita menjadi seseorang yang lebih baik, dengan menjadi seseorang yang terus memperbaiki diri maka kesuksesan,  kebahagiaan lain akan mengikutinya sebaliknya jika lisan di gunakan untuk disalah gunakan maka kesusaan yang lebih besar akan menantinya seperti sebuah pondasi yang di awali dengan burukan maka akan di ahiri dengan kehancuran. Banyak yang beranggapan bahwa ucapannya sepele biasa dan tidak keterlaluan akan tetapi terkadang di fikiran orang lain itu sangat keterlaluan kasar  tidak sopan bahkan tidak jarang dapat melukai hatiseseorang.
Ucapan seseorang dapat menjadi racun mematikan karna hanya dengan ucapan dapat mengakibatkan sebuah rasa sakit yang bahkan tidak dapat di akibatkan oleh benda tajam sekalipun, rasa sakit yang diberikan seperti sebuah racun ular dapat membuat lukanya menjadi sangat parah baik secara perlahan maupun dengan cara yang lambat. Jadi jagalah lisanmu semakin pandai kamu menggunakan lisan dengan kebaikan maka bahagialah kamu.


Persyaratan UKM SIMEMA STAIS Majenang

Refolusi Organisasi Mahasiswa STAIS Majenang

- Copyright © Mahasiswa Majenang Bersuara - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -