Recent post
Showing posts with label Karya Mahasiswa. Show all posts
Paradigma yang sudah melekat di ranah sebagian masyarakat.
Buat apa kuliah ?, toh sama saja yang sudah menjadi sarjanapun banyak yang menjadi pengangguran, mending sejak lulus SMK atau sederajat langsung mencari kerja apalagi kalau baru lulus ada lowongan dan tawaran ngapain nunggu jadi sarjana keburu tua dan gaada yang menerima kerja.
Buat apa kuliah mending biaya untuk kuliah buat modal usaha dari pada beramal kepada kampus, 1 semester 1,5 jt - puluhan dikali 8 semester bisa buat nyewa ruko + modalnya mas.
Dan masih banyak pemikiran lain yang menjadi alasan untuk kuliah atau mengkuliahkan.
Kerangka dalam berfikir sejak awal seperti ini, bagai orang yang takut terukah atau menghadapi perihnya hidup yang tanpa di sadari justru semua itu di percepat dan di permanen.
Jika seorang sarjana yang tingkat keilmuannya melebihi anak SMK sederajat juga masih dapat menjadi pengangguran apalah nasip yang SMK sederajat, lulus SMK sederajat untuk mencari atau menerima kerja kontrak apalah kata saat kontrak selesai atau umur melewati batas tanpa keahlian, memiliki modal tanpa memiliki dasar ilmu dan jiwa ke-pemimpinan dalam berwira usaha maka tau sendiri hasilnya.
Kuliah bukan untuk mendapatkan pekerjaan sebagai fokus utama tapi untuk membuat lapangan pekerjaan, sama seperti biaya pelatihan yang mahal di permurah dan di perluas kerangka dalam berfikirnya.
Jika yang di katakan Deddy Corbuzier bahwa buat apa sekolah atau berpendidikan kalau mau menjadi pekerja ya tinggal trampil, mau jadi polisi atau tentara ya pelatihan dan sebagainya tapi saat kau mau jadi pemimpin dan memper banyak keilmuan baru berpendidikan.
Dan untuk bekerja yang utama adalah karna kesenangan kalau kita mengerjakan karna terpaksa, tekanan, dan sebagainya yang membuat kamu tidak bahagia hasilnya juga tidak maksimal.
Banyak angak pengangguran dari sarjana karna mereka mengambil kejuruan atau prodi yang tidak sesuai dengan hatinya hingga saat menjadi pekerja tidak jauh dari hal yang tidak di inginkan juga.
Menjadi mahasiswa asik ko
"TOLAK BERITA HOAK"
Bisikan demi bisikan yang berkata biaya kuliah itu mahal, akibat dari itu banyak sebagian masyarakat ragu bahkan takut untuk berkeinginan agar anaknya dapat kuliah.
Rasa takut ragu sebelum melangkah membuat sebagian masyarakat terjebak dalam titik kemunduran, seperti sebuah angka NOL dimana setelahnya ada angka positif lainnya dan sebaliknya ada angka negatif lainnya.
Sama halnya tanpa kita mencoba, berusaha semaksimal mungkin dalam melangkah terus kedepan maka kita tidak akan tau dan belajar dari pengalaman.
Banyak kampus yang memberi keringanan biaya dan melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi, Pemerintah dan Hamba Allah lainnya-pun masih banyak yang memberi bantuan, semua informasi itu tidaakan di dapat saat kita sudah takut bahkan ragu hingga menutup mata dan telinga. Hal lainnya ada keringanan kelas reguler dan karyawan, membuktikan banyak mahasiswa yang masih bisa bekerja baik paruh waktu atau bekerja hoby (kereativitas,media dan lain sebagainya) pekerjaan tanpa tuntutan penghasilan lebih memungkinkan, dan hal pastinya saat anak kita berprestasi banyak sekolah yang asal yang membantu untuk mendapat pendidikan lebih tinggi bahkan berkemungkinan dapat melanjutkan pendidikan di luar Negri.
Namun karna sebagian masyarakat terperangkap tradisi ataupun budaya rasa raguan dan takut hingga berujung hanya doa dan harapan tanpa usaha bagai meminta hujan uang tanpa bekerja, mengangap Allah atau sang pencipta akan memberi cuma- cuma pada hamba yang tidak berusaha.
Taada halangan untuk kuliah saat kita berani melangkah dan usaha, kita selalu kembali ke titik NOL negatif atau positif kita yang tentukan.
Kegagalan, kesulitan bukan halangan tapi pembelajaran dari pengalaman.
Tanpa berani mengambil resiko dengan melangkah maju mana tau masadepan.
-1, -2, -3, 0,1, 2, 3
Butuh saran bukan kritik.. !
Ttd ketua LPM STAI Sufyan Tsauri Majenang
Farez D.H.
Sederhana bukan kekonyolan
Sederhana bukan kebodohan
Sederhana bukan ketololan
Tapi sederhana adalah saat kita tau mana yang hasus kita pilih untuk menyelesaikan masalah kita.
Berfikir sederhana adalah hal yang koyol bagi orang yang berkapasitas keilmuan dan pengetahuan terbatas ini, karna banyak yang terlalu menyederhanakan segala sesuatunya dan tersesat dengan kegagalan karna perbandingan kapasitas yang di milikinya.
Saat seseorang filsuf atau orang yang kapasitas otaknya lebih dibandingkan sebagian besar orang lainnya menyelesaikan masalah dengan sederhana dan menjawab sesuatunya dengan mudah karna mereka sudah mempelajari bahkan mendalami masalah tersebut dengan waktu yang lama, dengan banyak dasar yang di padukan dan saat orang seperti saya yang membaca 1 hari tida mampu tamat 1 buku apakah mampu menyederhanakannya itu adalah hal mustahil.
Kesalahan berfikir karna terkadang menganggap kita sudah tau dan berakibat so tau yang ternyata kita tidak mengetahui apapun adalah bumerang bagi kita sendiri.
Seorang Filsuf dapat memahami 100 buku dalam 1 hari jika di banding kita yang baru tau 1 buku ingin menjadjkan masalah seakan sederhana adalah hal yang koyol.
Masalah sekecil apapun pikirkan dengan matang dan teliti karna terkadang kita justru melewatkan hal yang sederhana, kecil, mudah, dan menyepelekannya hingga menjadi masalah besar dan tak terkendali.
Anggaplah kau orang terbodoh di dunia agar kau terus belajar dan memperhatikan segalahal dari yang kecil hingga yang besar.
Banyak hal yang tidak kita ketahui tapi mengatakan bahwa kita sudah mengetahui adalah sebuah keputusan dimana kita tau bahwa seberapa bodoh kita hingga ingin orang lain ikut seperti kita dengan membodohi.
Takjarang mudah dalam mengambil keputusan dan berucap tapi tak mudah melakukan dan membuktikan. Sekenario hidup kita yang buat hingga kita berusaha membuat sekenario untuk hidup orang lain.
Banyak hal yang tidak kita ketahui tapi mengatakan bahwa kita sudah mengetahui adalah sebuah keputusan dimana kita tau bahwa seberapa bodoh kita hingga ingin orang lain ikut seperti kita dengan membodohi.
Takjarang mudah dalam mengambil keputusan dan berucap tapi tak mudah melakukan dan membuktikan. Sekenario hidup kita yang buat hingga kita berusaha membuat sekenario untuk hidup orang lain.
Kosong bukan berarti tak berisi
Kosong bukan berarti kata sunyi
Kosong bukan berarti kata henti
Lihatlah dalamnya diri sebuah potensi yang harus di gali bukan hanya berimajinasi karna akan dapat di temukan sebuah titik yang selama ini kita belum mengerti.
Sendiri bukan berarti sepi, banyak bukan berarti ramai. Karna terkadang kita berada dalam sebuah keramaian yang ternyata hati, perasaan, dan pikiran kosong, sendiri atau sepi.
Disaat kita di hadapkan pada sebuah titik yang membuat kita merasa gagal, sendiri, sepi kekosongan yang membuat kita ragu maju atau mundur.
Sadarilah potensi dirimu yakinkanlah kosong itu adalah awal untuk angka awal positif lainnya jika kita maju dengan keyakinan kuat dan sadar bahwa dalam diri kita terpendam potensi, dan kosong juga langkah awal dari angka negatif lainnya setelah kita ragu takut bahkan mundur saat kita baru di beri sedikit ujian dalam hidup.
Sama halya saat kita berhenti sebelum mencoba mundur sebelum berusaha adalah posisi orang yang memang berada di titik nol yang melangkah mundur karna takut dan ragu melihat masadepan.
Dan sebaliknya dia yang melangkah dengan percaya masadepan kitasendiri yang ciptakan adalah posisi dimana seseorang berada di titik nol yang melangkah maju tanpa ragu bahwa masadepan memiliki hasil baik atau tidak.
Dia yang masih memikirkan untuk mundur sebelum melangkah adalah orang yang belum benar-benar memahami kata yang di ucapkan oleh Nuhammad Ainun Nadjib atau yang biasa di kenal Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) atau memang belum pernah mendengarkan yang di ajarkan atau di katakan terkait kepercayaan pada tuhan, dimana orang yang memikirkan mundur sebelum melangkah adalah ketidak percayaan pada tuhan dan pengalaman sebagai guru yang paling besar karna baik buruk hasil akan menjadi sumber pembelajaran.
Ingat masadepan kita yang tentukan karna dasarnya kita di takdirkan pada posisi Nol maju atau mundur tergantung keputusan kita.
Perasaan sepi atau ramai kita yang ciptakan apakah kita ingin membuat kesunyian di tengah keramaian atau keramaiyan yang di tentukan di tengah kesunyian.
Fikirkan dan maknai sebelum mengomentari
1213
Kosong bukan berarti kata sunyi
Kosong bukan berarti kata henti
Lihatlah dalamnya diri sebuah potensi yang harus di gali bukan hanya berimajinasi karna akan dapat di temukan sebuah titik yang selama ini kita belum mengerti.
Sendiri bukan berarti sepi, banyak bukan berarti ramai. Karna terkadang kita berada dalam sebuah keramaian yang ternyata hati, perasaan, dan pikiran kosong, sendiri atau sepi.
Disaat kita di hadapkan pada sebuah titik yang membuat kita merasa gagal, sendiri, sepi kekosongan yang membuat kita ragu maju atau mundur.
Sadarilah potensi dirimu yakinkanlah kosong itu adalah awal untuk angka awal positif lainnya jika kita maju dengan keyakinan kuat dan sadar bahwa dalam diri kita terpendam potensi, dan kosong juga langkah awal dari angka negatif lainnya setelah kita ragu takut bahkan mundur saat kita baru di beri sedikit ujian dalam hidup.
Sama halya saat kita berhenti sebelum mencoba mundur sebelum berusaha adalah posisi orang yang memang berada di titik nol yang melangkah mundur karna takut dan ragu melihat masadepan.
Dan sebaliknya dia yang melangkah dengan percaya masadepan kitasendiri yang ciptakan adalah posisi dimana seseorang berada di titik nol yang melangkah maju tanpa ragu bahwa masadepan memiliki hasil baik atau tidak.
Dia yang masih memikirkan untuk mundur sebelum melangkah adalah orang yang belum benar-benar memahami kata yang di ucapkan oleh Nuhammad Ainun Nadjib atau yang biasa di kenal Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) atau memang belum pernah mendengarkan yang di ajarkan atau di katakan terkait kepercayaan pada tuhan, dimana orang yang memikirkan mundur sebelum melangkah adalah ketidak percayaan pada tuhan dan pengalaman sebagai guru yang paling besar karna baik buruk hasil akan menjadi sumber pembelajaran.
Ingat masadepan kita yang tentukan karna dasarnya kita di takdirkan pada posisi Nol maju atau mundur tergantung keputusan kita.
Perasaan sepi atau ramai kita yang ciptakan apakah kita ingin membuat kesunyian di tengah keramaian atau keramaiyan yang di tentukan di tengah kesunyian.
Fikirkan dan maknai sebelum mengomentari
1213
![]() |
| Add caption |
Pada saat ini penulis akan membahas mengenai Generasi Aki, apa kah yang di maksud.?
Yah di mana generasi yang masih membingungkan saat orang yang lebih tua lebih menginginkan sebuah jabatan yang seharusnya dapat di gunakan oleh generasi muda sebagai ajang pembelajaran. Bukan untuk melarang orang yang lebih tua terus belajar, melainkan memberi kesempatan pada yang muda untuk belajar.
Tulisan ini penulis ambil dari sebuah pengalaman saat pemilihan ketua organisasi Mahasiswa Kongres ke VII di mana anak – anak dari semester tua berkata kepemimpinan organisasi saat ini adalah waktunya regenerasi dimana akan di berikan kepada semester bawahnya, walau ada yang sangat di sayangkan mereka justru menjadi tim pendukung dari orang yang lebih tua dan memiliki banyak kesibukan. Apakah arti dari re-generasi adalah hanya perpindahan dari semester tua kesemester yang lebih mudah, kita semua mengetahui bahwa Mahasiswa bukan hanya anak – anak muda akan tetapi juga orang tua dari semester 1 – 8 bahkan lebih semuanya sama setiap kelas ada anak muda dan juga yang tua. Sayangnya bagi logika penulis halitu sangatlah salah karna buat apa adanya re-generasi kalau hanya untuk perpindahan tingkatan tapi tetap di pimpin oleh orang yang jauh lebih sibuk di banding semester tua bahkan hal itu dapat meng hambat generasi muda untuk belajar dan cari pengalaman.
Akan tetapi hal seperti itu masih terjadi sehingga apakah benar jika orang yang lebih tua lebih ingin sebuah jabatan sedangkan dia adalah orang yang sudah berkeluarga, pembisnis, memimpin banyak usaha, bahkan jika dia belom berkeluarga dan bukan orang sukses apakah masih pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Oleh sebab itu penulis menulis ini semua.
Pertama untuk orang tua belom sukses, yang masih ingin jabatan di ranah organisasi mahasiswa. Fikirkanlah kembali di waktu saat ini penulis yakin masih ada semangat muda dalam diri orang tua seperti itu, sehingga masih ingin belajar berorganisasi akan tetapi apakah tidak jauh lebih baik belajar dengan menjadi angota di organisasi atau penasihat pembimbing yang tida berstruktur agar dapat tetap belajar tanpa menggangu proses belajar dari seorang Mahasiswa atau generasi muda, dan dengan mengajarkan generasi muda atau menjadi pembimbingnya re- generasi akan terus berjalan. Jika yang tua sudah mengajarkan untuk merenggut proses yang muda maka hal yang sama akan berulang di masa mendatang dan taada hentinnya justru pada ahirnya akan menjadi titik awal kehancuran baik organisasi mahasiswa kampus maupun negaranya, penyesalan yang dilakukan pada masalalu karna tidak dapat menjadi pemimpin organisasi di masa itu jangan di lampiaskan pada masa saat ini sehingga mengganggu proses dari generasi muda saat ini dan dapat membuat hal yang sama terjadi di masa yang akan datang . Seharusnya dari pengalaman yang pernah di alami justru di jadikan ajaran dan meberi motifasi yang muda agar mereka ingin terus berorganisasi agar tidak mengalami penyesalan yang sama.
Kedua untuk orang tua yang sukses memiliki banyak usaha bahkn sudah berkeluarga yang masih ingin mengejar jabatan ketua organisasi mahasiswa, maka fikirkanlah kembali karna penulis yakin dengan sudah menjadi seorang pembisnis artinya sudah banyak pengalaman yang dimiliki sehingga layak untuk menjadi seorang pemimpin akan tetapi organisasi mahasiswa adalah wadah untuk belajar berorganisasi apakah orang yang sudah banyak pengalaman terus belajar sehinga menggangu tempat yang seharusnya bisa di gunakan oleh anak – anak muda belajar, bukan melarang orang tua yang sukses untuk belajar akan tetapi lebih memberi kesempatan yang muda untuk belajar hinga bisa mengajarkan generasi setelahnya lagi, di mana tali regenerasi tidak akan putus karna orang yang dewasa harusnya mau membimbing dan menasehati tapi bukan berarti harus menjadi seorang pemimpin.
Seperti yang kita semua ketahui bahwa orang tua adalah orang yang lebih dewasa dan lebih banyak memiliki ilmu wawasan dan juga pengalaman bukankah seharusnya membimbing dan berbagi pengetahuan yang dimiliki agar ada generasi yang jauh lebih baik dan semakin baik di kemudian harinya, apabil yang tua masih berfikir tentang egonya untuk berada di tahap belajar dengan mengambil tempat generasi muda maka akan di taro di mana semangat dari generasi mudannya, akan kah terhenti regenerasi atau tidak ada di tangan diri kita masing – masing. Jika orang yang lebih tua sudah memberi kesempatan untuk yang muda belajar jangan sampai di tersia – sia.
Rubah masadepan bersama – sama karna jika kita bersama kita bisa.
Fahmi Reza D.H
Pimpinan Redaksi LPMSCR
Ukuran sebuah produk jurnalistik seharusnya tidak ditentukan dari ada atau tidaknya badan hukum, tetapi dari aktivitas yang dilakukannya. Jika seseorang atau kelompok mencari, mengolah dan menyebarluaskan informasi secara teratur melalui media tertentu, itu adalah aktivitas jurnalistik. Dan sudah seharusnya menjadi bagian dari pers nasional. Tidak boleh tidak.
Sayangnya, “setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia,” begitu tertulis Pasal 9 dalam Undang-Undang 40/1999 tentang Pers. Artinya, setiap aktivitas jurnalistik yang tidak berbadan hukum bukanlah pers, termasuk dalam hal ini adalah pers mahasiswa.
Karena pers mahasiswa tidak berbadan hukum secara mandiri, pers mahasiswa masih bergantung kepada badan hukum milik perguruan tinggi tempat ia bernaung. Sehingga, pers mahasiswa masih dianggap sebagai tanggung jawab perguruan tinggi tersebut. Karena merasa pers mahasiswa berada di bawah komandonya, pimpinan kampus sering berbuat sewenang-wenang bila hasil liputan tak sesuai dengan keinginan mereka.
Kesewenangan itu misalnya tampak dari pimpinan kampus yang acapkali melakukan praktik penyensoran kepada pers mahasiswanya. Hasil reportase atau artikel dari pers mahasiswa tersebut harus dibaca dan periksa terlebih dahulu oleh dekanat atau rektorat kampus sebelum terbit. Praktik tersebut dilakukan agar pemberitaan sesuai dengan visi perguruan tinggi tersebut. Jika demikian, redaksi pers mahasiswa harus dipertanyakan independensinya.
Padahal Peraturan Dewan Pers mengenai kode etik jurnalistik menjelaskan bahwa wartawan Indonesia harus bersikap independen, atau memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan hati nurani tanpa campur tangan, paksaan dan intervensi dari pihak lain termasuk perusahaan pers.
Selain penyensoran, pers mahasiswa masih rentan terhadap penyunatan anggaran. Jika mengeluarkan berita-berita yang sarat muatan kritik, gelontoran dana dikurangi, ditunda bahkan dihentikan. Walau beberapa pers mahasiswa di Indonesia nekat angkat kaki dari kampus, terbukti mereka tidak mampu bertahan hidup. Jadinya seperti tempo, tempo terbit, tempo tidak.
Berdasarkan catatan PPMI saja, untuk periode 2014-2015 sudah terjadi 10 kasus yang dialami oleh pers mahasiswa. Termasuk didalamnya intimidasi empat kasus, diskriminasi satu kasus, pelarangan kegiatan tiga kasus, dan pembredelan tiga kasus. Pembekuan pers mahasiswa UKPKM Media Unram di Universitas Mataram (Unram) Kamis (29/11) adalah kasus pembredelan pers mahasiswa paling baru. Kabag Kemahasiswaan Unram menyisir gedung kemahasiswaan, lalu awak redaksinya dipaksa angkat kaki dari sekretariat. Alasannya : tidak memberitakan yang baik-baik terhadap kampus. Duh.
Pers Mahasiswa sebagai Bagian dari Pers Nasional
Selain berbadan hukum, perusahaan pers yang diakui pemerintah harus memiliki modal minimal Rp 50 juta, membiayai karyawannya, serta mendapatkan pengesahan dari Departemen Hukum dan HAM. Persyaratan-persyaratan di ataslah yang tidak dapat dipenuhi oleh blogger, jurnalisme warga dan pers mahasiswa. Jangankan membiayai karyawan, anggota pers mahasiswa saja seringkali harus merogoh kantongnya untuk membiayai penerbitan majalah.
Pemahaman kita terhadap pers mahasiswa seharus ditempatkan pada konteksnya tersendiri. Pers mahasiswa berbeda dengan pers pada umumnya. Sebagai media alternatif, pada masa orde baru pers mahasiswa menjadi bagian yang integral dengan gerakan mahasiswa. Ketika represi pemerintah terhadap pers umum sangat kencang, pers mahasiswa menjadi opsi untuk mengkritisi pemerintah. Tidak luput, akhirnya mereka juga diberedel.
Berdasarkan catatan Suara Merdeka (1/11), ada beberapa kasus pers mahasiswa yang peredarannya ditarik secara paksa pada era Orde Baru. Misalnya Hayamwuruk dari Undip karena meliput golput pada 1993, Vokal dari IKIP PGRI Semarang yang mewawancarai Pramoedya Ananta Toer pada 1994, dan Arena dari IAIN Sunan Kalijaga karena membahas bisnis keluarga presiden pada 1995.
Ketika reformasi lahir, pers mahasiswa semakin tersingkirkan dari tempatnya karena kalah bersaing dengan pers umum yang semakin bertambah banyak. Pers mahasiswa juga kehilangan musuh alaminya, pemerintahan orde baru yang represif. Akhirnya, pers mahasiswa juga semakin terlokalisir di dalam kampus.
Agenda rekontekstualisasi pers mahasiswa pada era reformasi menuntut pers mahasiswa untuk menjadi lebih profesional, tanpa harus kehilangan daya kritisnya. Nah, Undang-Undang 40/1999 tentang Pers yang lahir pada transisi reformasi tersebut seharusnya dapat mengakomodir kebutuhan pers mahasiswa dan melindunginya.
Membuat badan hukum bagi pers mahasiswa adalah bentuk formalisasi yang harus dihindari. Sebab selain mengurangi esensinya yang selalu bergerak di luar arus utama, pers mahasiswa memiliki karakter khusus yang tidak dapat disamakan dengan perusahaan pers pada umumnya. Pers mahasiswa tidak dapat memenuhi ketentuan yang ditetapkan mengenai syarat perusahaan pers.
Salah satu pilihan paling rasional adalah dengan memasukan pers mahasiswa secara formal sebagai bagian dari pers nasional, tanpa harus membuatnya menjadi perusahaan pers seperti diatur Undang-Undang 40/1999 tentang Pers. Harapannya, hak konstitusional atau perlindungan hukum dapat menjamin kebebasan pers mahasiswa. Seperti jelas dinyatakan pada pasal 4 ayat 1, “terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran”.
Dengan demikian, wacana kebebasan pers yang digulirkan pada era reformasi memberikan dampak yang signifikan tidak hanya kepada pers umum, tetapi juga pers mahasiswa. Sebab sama dengan pers umum, pers mahasiswa juga butuh jaminan perlindungan dan pandangan yang setara di mata undang-undang.
Bisa Mulut Manusia
Kitab suci Al Quran adalah kitab suci bagi orang – orang Islam, di dalam Al Kitab banyak menjelaskan tentang menjaga lisan atau bicara, bahkan dalam pribahasa juga seringkali menyinggung seperti Lidah lebih tajam daripada pisau dan lain sebagainnya, semua itu mungkin kalian sering mendengarnya.
Akan tetapi penulis tetap menuliskan mengenai pembahasan ini dikarnakan, masih banyak yang mungkin lupa akan itu semua dengan dibuktikan pada era saat ini masih banyak yang sering berbohong, fitnah,ingkar,gosip dan lain sebagainya dimana penggunaan lisan tidak seperti seharusnya digunakan.
Dari pengalaman penulis yang menjadi sebuah riset untuk acuan dalam tulisan saat ini penulis sering mendengar perkataan tidak, tidaakan, itu buruk, jangan, bukan danlain sebagainya sebagai sebuah bantahan atau alasan untuk mereka tidak melakukannya akan tetapi sering kali justru mereka melakukannya, dan sudah tidak mengherankan lagi jika mereka memberi tambahan untuk dalih atau alasan atas tingkahlakunya. Mungkin memang masih banyak di antaranya yang merubah keputusan dikarnakan mereka baru menyadari apa yang haarus mereka lakukan namun seringkali mereka tidak memberitahu kembali atas perubabahan yang mereka putuskan, dan lebih parahnya banyak juga yang memang dengan sengaja mengatakan prihal tersebut untuk membohongi orang lain tanpa mereka sadari bahwa sekecil apapun kebohongan itu akan di pertanggung jawabkan di kemudiyan hari baik di ahirat maupun di dunia seperti siksa kubur atau akan di bohongi oleh orang lain.
Hal – hal sepele yang sering jadi kebiasaan saat ini adalah lebih mengutamakan kepentingan dan kebutuhan dibandingkan kejujuran dan aturan yang ada, contoh misal dengan di awali berbohong seperti menaikan harga jual saat berdagang dengan sangat tinggi dalih yang selalu di ucapkan adalah ini harga pas atau harga sudah dari pabriknya yang sebetulnya tidak seperti yang di katakan benih itu di budidayakan dan di kembangkan dengan korupsi dana seperti dalam suatu proyek baik kemasyarakatan maupun proyek kemahasiswaan proposal yang di buat oleh panitia selalu saja menambah nominal RAB pada proposal pengajuannya dan di perparah dengan LPJ tidak sesuay atas apa yang di berikan walau ada dana sisa dari proyek selalu ditulis bahwa semua dana habis untuk proyek.
Bayak budaya buruk yang menjadi suatu tradisi yang hingga saat ini masih tidak disadari oleh banyak orang seperti dari lisan maupun dalam perbuatan, akan tetapi baik buruk manusia dapat di percaya itu melalui lisan jika lisan digunakan untuk sedikit kebohongan maka kehancuran kepercayaan dan lain sebagainya yang lebih besar akan menanti dirinya.
Lisan lebih tajam daripada pisau semua orang mengetahui tapi juga tetap disalah gunakan, sama seperti pisau dapat digunakan untuk membantu atau melukai bahkan merusak seperti itu juga lisan ucapan dapat membantu kita menjadi seseorang yang lebih baik, dengan menjadi seseorang yang terus memperbaiki diri maka kesuksesan, kebahagiaan lain akan mengikutinya sebaliknya jika lisan di gunakan untuk disalah gunakan maka kesusaan yang lebih besar akan menantinya seperti sebuah pondasi yang di awali dengan burukan maka akan di ahiri dengan kehancuran. Banyak yang beranggapan bahwa ucapannya sepele biasa dan tidak keterlaluan akan tetapi terkadang di fikiran orang lain itu sangat keterlaluan kasar tidak sopan bahkan tidak jarang dapat melukai hatiseseorang.
Ucapan seseorang dapat menjadi racun mematikan karna hanya dengan ucapan dapat mengakibatkan sebuah rasa sakit yang bahkan tidak dapat di akibatkan oleh benda tajam sekalipun, rasa sakit yang diberikan seperti sebuah racun ular dapat membuat lukanya menjadi sangat parah baik secara perlahan maupun dengan cara yang lambat. Jadi jagalah lisanmu semakin pandai kamu menggunakan lisan dengan kebaikan maka bahagialah kamu.
Kitab suci Al Quran adalah kitab suci bagi orang – orang Islam, di dalam Al Kitab banyak menjelaskan tentang menjaga lisan atau bicara, bahkan dalam pribahasa juga seringkali menyinggung seperti Lidah lebih tajam daripada pisau dan lain sebagainnya, semua itu mungkin kalian sering mendengarnya.
Akan tetapi penulis tetap menuliskan mengenai pembahasan ini dikarnakan, masih banyak yang mungkin lupa akan itu semua dengan dibuktikan pada era saat ini masih banyak yang sering berbohong, fitnah,ingkar,gosip dan lain sebagainya dimana penggunaan lisan tidak seperti seharusnya digunakan.
Dari pengalaman penulis yang menjadi sebuah riset untuk acuan dalam tulisan saat ini penulis sering mendengar perkataan tidak, tidaakan, itu buruk, jangan, bukan danlain sebagainya sebagai sebuah bantahan atau alasan untuk mereka tidak melakukannya akan tetapi sering kali justru mereka melakukannya, dan sudah tidak mengherankan lagi jika mereka memberi tambahan untuk dalih atau alasan atas tingkahlakunya. Mungkin memang masih banyak di antaranya yang merubah keputusan dikarnakan mereka baru menyadari apa yang haarus mereka lakukan namun seringkali mereka tidak memberitahu kembali atas perubabahan yang mereka putuskan, dan lebih parahnya banyak juga yang memang dengan sengaja mengatakan prihal tersebut untuk membohongi orang lain tanpa mereka sadari bahwa sekecil apapun kebohongan itu akan di pertanggung jawabkan di kemudiyan hari baik di ahirat maupun di dunia seperti siksa kubur atau akan di bohongi oleh orang lain.
Hal – hal sepele yang sering jadi kebiasaan saat ini adalah lebih mengutamakan kepentingan dan kebutuhan dibandingkan kejujuran dan aturan yang ada, contoh misal dengan di awali berbohong seperti menaikan harga jual saat berdagang dengan sangat tinggi dalih yang selalu di ucapkan adalah ini harga pas atau harga sudah dari pabriknya yang sebetulnya tidak seperti yang di katakan benih itu di budidayakan dan di kembangkan dengan korupsi dana seperti dalam suatu proyek baik kemasyarakatan maupun proyek kemahasiswaan proposal yang di buat oleh panitia selalu saja menambah nominal RAB pada proposal pengajuannya dan di perparah dengan LPJ tidak sesuay atas apa yang di berikan walau ada dana sisa dari proyek selalu ditulis bahwa semua dana habis untuk proyek.
Bayak budaya buruk yang menjadi suatu tradisi yang hingga saat ini masih tidak disadari oleh banyak orang seperti dari lisan maupun dalam perbuatan, akan tetapi baik buruk manusia dapat di percaya itu melalui lisan jika lisan digunakan untuk sedikit kebohongan maka kehancuran kepercayaan dan lain sebagainya yang lebih besar akan menanti dirinya.
Lisan lebih tajam daripada pisau semua orang mengetahui tapi juga tetap disalah gunakan, sama seperti pisau dapat digunakan untuk membantu atau melukai bahkan merusak seperti itu juga lisan ucapan dapat membantu kita menjadi seseorang yang lebih baik, dengan menjadi seseorang yang terus memperbaiki diri maka kesuksesan, kebahagiaan lain akan mengikutinya sebaliknya jika lisan di gunakan untuk disalah gunakan maka kesusaan yang lebih besar akan menantinya seperti sebuah pondasi yang di awali dengan burukan maka akan di ahiri dengan kehancuran. Banyak yang beranggapan bahwa ucapannya sepele biasa dan tidak keterlaluan akan tetapi terkadang di fikiran orang lain itu sangat keterlaluan kasar tidak sopan bahkan tidak jarang dapat melukai hatiseseorang.
Ucapan seseorang dapat menjadi racun mematikan karna hanya dengan ucapan dapat mengakibatkan sebuah rasa sakit yang bahkan tidak dapat di akibatkan oleh benda tajam sekalipun, rasa sakit yang diberikan seperti sebuah racun ular dapat membuat lukanya menjadi sangat parah baik secara perlahan maupun dengan cara yang lambat. Jadi jagalah lisanmu semakin pandai kamu menggunakan lisan dengan kebaikan maka bahagialah kamu.
Thursday, June 6, 2019
Author : farez chaiber
Comments : 0
Tag :
ADART,
BEM,
Berita Kampus,
Berita Umum,
DPM,
Formal LPM,
Karya Mahasiswa,
Kritik Dan Saran,
Non Formal LPM,
Payung Hukum,
PMII,
Profile,
Struktur,
UKM
GANTI HALAMA





